Sigma Leadership

Memimpin Diri: Ego vs Nilai

By 6 February 2026No Comments

Bagi saya, mempraktikkan Sigma Leadership (SL) bukan soal menjadi pemimpin yang selalu tenang dan ideal, tetapi tentang terus kembali ke kesadaran ketika emosi, ego, dan kelelahan muncul.

Dalam memimpin diri sendiri, praktik manajemen waktu dan meditasi formal sebelum beraktivitas sudah menjadi kebiasaan. Tantangan terbesarnya justru menjaga kualitasnya agar tetap stabil. Perlahan saya belajar lebih peduli pada tubuh. Jika ada kesempatan makan sebelum pekerjaan menumpuk, saya memilih makan terlebih dahulu. Ketika lelah mulai terasa, saya lebih cepat mengambil keputusan untuk beristirahat. Dulu, saya hampir selalu memaksakan diri menyelesaikan pekerjaan lebih dulu, meski tubuh sudah memberi sinyal.

Praktik  self-awareness    dalam Sigma Leadership sangat membantu saya menahan respons yang reaktif, terutama ketika terpicu oleh lawan bicara. Saya lebih cepat menyadari bahwa secara emosi saya sedang tidak baik-baik saja. Namun di lapangan, saya menemukan tantangan penting: kesadaran tidak otomatis diikuti dengan penanganan yang tepat. Saya tahu sedang emosi, tetapi belum tentu langsung bermeditasi atau mengambil jeda. Kebiasaan memendam emosi destruktif ternyata masih menjadi PR besar bagi saya.

Salah satu momen paling bermakna terjadi ketika saya berada di persimpangan antara menuruti kebaperan atau berpegang pada nilai. Ada perilaku rekan kerja yang tidak saya sukai, dan sepulang kerja saya sempat berniat mengirim pesan ke grup unit. Untungnya saya menunda. Setelah sadar, motivasi saya saat itu sangat dangkal—hanya ingin meluapkan ketidaksukaan. Ketika emosi mereda, niat itu pun berhenti.

Beberapa hari kemudian, dalam kelas Unlock your Sigma Potential (USP) tanggal 18 Oktober 2025, materi Sigma Leadership membahas tentang teladan dan pentingnya memegang core value dalam memimpin. Saat itu saya teringat kembali pada pesan yang sempat ingin saya sampaikan. Kali ini saya menemukan nilai yang lebih tinggi, yaitu keselamatan pasien. Dengan kesadaran ini, dorongan untuk menyampaikan saran muncul kembali, tetapi dengan energi yang jauh lebih tenang dan jernih. Akhirnya pesan tersebut tetap saya sampaikan, bukan dengan emosi, melainkan melalui kepala unit dan dibahas dalam rapat rutin.

Sigma Leadership juga membantu saya melihat kegagalan dengan lebih jujur. Pernah saya merasa sudah memberi teladan, tetapi ternyata motivasi dasarnya egois—ingin pekerjaan saya berkurang. Saya membagikan tangkapan layar koordinasi kerja ke grup dengan harapan orang lain melanjutkan. Ketika itu tidak terjadi, saya kecewa dan baper. Di situlah saya sadar bahwa praktik teladan saya tidak tulus, karena niatnya tidak jernih.

Perbedaan menerapkan Sigma Leadership dan tidak sangat terasa. Tanpa SL, saya lebih mudah bereaksi dan bertindak berdasarkan emosi sesaat. Dengan SL, ada jeda untuk bertanya pada diri sendiri: apa motivasi saya, dan nilai apa yang sedang saya pegang? Proses ini memang tidak selalu nyaman, tetapi justru disinilah saya belajar tentang kedewasaan emosi dan kepemimpinan yang utuh.

Bagi saya, Sigma Leadership bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang terus berlatih sadar, jujur pada diri sendiri, dan memilih bertindak dari nilai, bukan dari ego.

Gede Vernanda Satria Dita
Dokter umum di Singaraja Bali

Your Reaction:

Loading spinner