Saya terdorong untuk membaca ulang tentang Sigma Leadership (SL) dari Avalon ini. Selama ini, cara belajar saya memang terasa seperti menemukan kepingan puzzle yang belum sepenuhnya tersusun rapi, karena saya belum sepenuhnya memahami Sigma Leadership ini.

Setelah membaca ulang dan me-review apa saja yang telah saya dapatkan melalui pelatihan di Avalon, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa ini adalah seni kepemimpinan tingkat tinggi. Saya belum pernah menemukan metoda seni memimpin yang setinggi ini sebelumnya. 

Sigma Leadership adalah seni memimpin yang berlandaskan kesadaran murni, yang mengajak pemimpin untuk berada di titik setimbang, agar bisa sangat berdaya tanpa menimbulkan efek samping. Mampu sangat bahagia dan totalitas dengan apa pun peran yang dititipkan pada kita.

Di titik inilah saya baru mengerti kenapa dari dulu di sini awal selalu digaungkan istilah “pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.” Karena ini memang seni memimpin pada level puncak: ketika seorang pemimpin, dengan ruang kesadaran yang semakin jernih, mampu membawa dirinya dan lingkungannya menuju kebahagiaan, kebermaknaan, dan kesuksesan yang holistik—bukan parsial.

Di titik inilah saya baru mengerti kenapa dari dulu di sini digadang-gadang istilah “pemimpin yang sudah selesai dengan diri sendiri.” Karena ini memang seni memimpin dengan metode paling puncak, yaitu ketika si pemimpin dengan ruang kesadaran yang (semakin) jernih, mampu membawa dirinya dan sekitarnya ke kebahagiaan, kebermaknaan, dan kesuksesan yang holistik, bukan parsial. 

Kunci agar bisa melakukan seni kepemimpinan yang berkesadaran Sigma Leadership, memang ada pada metode meditasi yang menjernihkan dan membuka kesadaran, yang selama ini diajarkan di Sekolah Kehidupan Persaudaraan Matahari (SKPM).

Dalam materi Sigma Leadership di website Avalon tentang Kepemimpinan Berbasis Kesadaran Sigma Material, ada tahapan-tahapannya. Yang saya lakukan selama mengikuti berbagai sesi pelatihan di Avalon ini, masih paralel antara terus antara: (1) memperbaiki praktik mindfulness melalui meditasi, sambil (2) memperbaiki atau melakukan rewiring pola pikir dan persepsi yang sudah kadung kebanyakan destruktifnya. 

Kapan lagi belajar memimpin yang dimulai dengan memimpin diri sendiri, ya nggak? Saya belajar memimpin diri agar bisa sadar diri dengan kekurangan dan kelebihan, serta membongkar si mental block yang sudah banyak saya koleksi selama ini.

Efeknya, ternyata saya jadi mulai bisa menata kehidupan saya sendiri. Termasuk di dalamnya menata waktu dan energi. Menata agar segera mengerem jika sudah ada tanda-tanda overthinking, atau jika sudah mulai terasa kelelahan (fatigue). Memotivasi diri untuk bekerja atau melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat, jika sudah ada tanda-tanda maunya santai, malas-malasan yang berlebihan, atau stagnasi.

Dalam kontek pekerjaan, saya menjadi lebih mampu berkomunikasi lebih lugas dan jujur apa adanya dengan tim kerja, sesuatu yang dulu terasa sulit sekali. Lalu apabila ada tantangan dan masalah yang memusingkan, jurus ninjanya dengan meditasi dan membangun budaya komunikasi yang tepat sasaran.

Tantangan dalam mempraktikkan filosofi Sigma Leadership adalah saat “ujian praktik” hadir. Rasanya, ujian menjadi lebih sering. Mungkin karena proses penjernihan yang berlangsung lebih cepat (akselerasi) dan termanifestasi dalam bentuk berbagai tantangan yang timbul. 

Kadang, tantangan tersebut menjadi lebih susah karena di luar prediksi dan ekspektasi nalar, dan di luar kalkulasi kemampuan yang saya perhitungkan saat itu. Tapi lucunya, tantangan itu selalu datang bersamaan dengan peluang. Ketika upaya terbaik disertai kepasrahan dan latihan meditasi kapan pun dimana pun, maka peluang perbaikan (beserta pembelajarannya) akan terlihat oleh kita dan dapat kita ambil.

Ratih Handayani
Desainer Interior, Hara Studio Bandung
Peserta Kelas Unlock your Sigma Potential (USP Batch 1)