Skip to main content

Salah satu program unggulan The Avalon Consulting ID adalah Avalon Leadership Online Course (ALOC) yang sudah memasuki batch ke-3, dan sudah berakhir 29 Oktober 2022 lalu. Setiap batch program ALOC  terdiri dari 12 sesi, dengan setiap sesi selama 2 jam di hari Sabtu sore tiap minggunya.

Pada setiap akhir penutupan program ALOC, para peserta diminta mengirimkan tugas akhir berupa catatan refleksi atas keikutsertaannya dalam program tersebut.

Berikut adalah catatan refleksi dari Gita Anggi Alisa, peserta ALOC Batch 3 yang berprofesi sebagai Legal Counsel di salah satu BUMN dan kini juga menjabat sebagai ketua Perkumpulan Pusaka Indonesia Gemahripah (PIG) wilayah DKI Jakarta dan Banten. Pada catatan refleksinya kali ini, ia banyak mengambil makna spiritualitas dan kepemimpinan yang sangat dekat dengan kehidupannya, dari materi yang dipaparkan oleh Chairman The Avalon Consulting, Setyo Hajar Dewantoro, dan Direktur Finance and Administration sekaligus Wakil Sekjend PIG, Keisari Pieta atau yang akrab dipanggil Mbak Ay.

Sesi Pertama yang Membangunkan Jiwaku

Sesi pertama ALOC 3 ternyata sangat berkesan untuk Anggi, ketika dirinya mengajukan pertanyaan kepada pemateri, Chairman Avalon yang juga Guru Spiritual Setyo Hajar Dewantoro, “Mengapa jika di kantor saya jadi sulit berpikir padahal dulu sebelum belajar spiritual otak encer mikir kesana kemari?”

Di momen itu, Anggi merasa mendapatkan teguran keras yang mengingatkannya karena tidak konsisten hening di kantor, terbiasa hidup nyaman dan enak sehingga tidak terbiasa bertahan di kondisi sulit, menjadi kuat dan tangguh. Terkuak juga bahwa Anggi hanya mau mendapati kenyamanan dan enaknya saja saat belajar spiritual sehingga belum bisa menerima adanya kondisi tidak nyaman yang harus diterima dengan pasrah dan tulus.

“Belajar spiritual itu membuahkan pencapaian potensi yang tinggi dan diimbangi oleh risiko yang tinggi pula. Aku tahu aku bukan risk-taker. Saat ini aku memutuskan untuk no turning back and go ahead till the victory happens,” tegas Anggi.

“The higher achievement, the higher risk will be borne.”

 

Menerapkan Hening di Kantor

Sesi ALOC yang dibawakan oleh Mbak Ay, menurut Anggi merupakan sesi yang berkesan, karena sangat relevan dengan kondisinya yang pekerja kantoran di korporasi besar dengan beragam tantangan, terutama dalam hal menerapkan praktik hening di kantor. “Dengan pekerjaan kantor yang banyak, deadline yang kejar-kejaran, rekan kerja yang belum tentu supportif, atasan yang sulit memberi keputusan dan instruksi, per-bully-an yang terus menerus dihadapi, membuatku mudah sekali baper dan stress sendiri di kantor,” kata Anggi.

Menerapkan hening di kantor betul-betul membutuhkan kesungguhan. Dengan arahan dari Mbak Ay, Anggi mempraktikan tips untuk hening formal (meditasi formal) 2-3 kali sehari di toilet, memutar audio meditasi Guru SHD saat rapat dan terus berupaya menjaga kejernihan energi 100% selama bekerja. “Memang tidak mudah, tapi Mas Guru SHD selalu mengatakan bahwa hening ini adalah skill, jadi harus terus menerus dilatih dengan konsisten dan pantang menyerah,” jelas Anggi.

Hasil dari kesungguhannya berlatih, Anggi mulai merasakan keruwetannya di kantor berangsur bisa dihadapi, begitu juga berbagai situasi yang tidak terduga. “Saat kejernihan (tubuh energi) 100%, boss ngomel-ngomel, teman ngedumel, kerjaan banyak dan rapat yang lama pun tidak menjadi hal yang memberatkan lagi, Mbak Ay mengatakan itulah surga di Bumi. Kondisi di mana kita selalu meditative (menyadari tarikan dan hembusan nafas natural di dada) di mana pun dan kapan pun, itulah surga yang nyata, ” kata Anggi lagi.

“The great leader will accept all risks as an inseparable part of Law of Universe.”

 

Tahu Kapan Harus Berhenti, Jalan, Lari

Salah satu hal penting yang Anggi catat juga adalah, pembelajar spiritual sepatutnya memahami kapan dia harus berhenti, berjalan, atau pun berlari.

“Aku pun memahami kenapa aku dianugerahi tanggung jawab yang bisa dikatakan tidak juga sedikit. Semesta mengajarkanku untuk terus berlatih memberikan yang terbaik di setiap momen, di setiap tanggung jawab yang sedang aku kerjakan. Kesibukan itu menjadi ajang buatku latihan kapan aku berhenti, mengamati berbagai hal dan mempelajarinya. Berjalan, mengerjakan satu per satu pekerjaan dengan penuh rasa syukur. Selanjutnya, berlari, pada saat Semesta memberikan kekuatan untuk menyelesaikannya dengan cepat,” jelas Anggi.

Tentu, sekali lagi ini butuh latihan, karena berhenti, jalan dan lari adalah proses. Hasil tidak akan mengkhianati proses, maka nikmati proses, nikmati waktu harus berhenti, waktunya berjalan dan waktunya lari.