
Bermula dari pertanyaan pemantik di grup pembelajaran untuk berefleksi atas sebuah unggahan di media sosial, yang mengungkap tentang manusia yang banyak berlaku seperti robot, rela melakukan berbagai hal dalam kehidupannya demi mencetak sebuah prestasi dan pengakuan sosial. Tampak lazim dalam kacamata umum, dan seringkali dihormati karena dianggap sudah banyak berkorban untuk memberikan dampak kepada masyarakat luas. Hingga akhirnya, dirinya harus berhadapan dengan momentum yang membuat ambisi dalam ‘perjuangan’-nya berhenti berkutik.
Awalnya saya belum sepenuhnya memahami makna pernyataan tersebut. Lalu setelah membaca konten yang dibagikan di grup pembelajaran tersebut, barulah saya sadar dalam perenungan. Benar juga. Manusia yang hidupnya selalu digerakkan oleh sisi gelap akan seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ia lupa bahwa dirinya sebenarnya punya kuasa untuk mengendalikan diri. Termasuk semua perangkat canggih yang diberikan Tuhan — seperti otak, saraf, dan perangkat kecerdasan lainnya (dalam Sigma Leadership, pembahasannya bahkan lebih lengkap lagi karena ada perangkat yang disebut Divine Sense).
Akibatnya, ia bekerja bukan untuk mengendalikan mesin yang diberikan Tuhan (otak, tubuh, dan seluruh perangkat kecerdasannya), melainkan justru dikendalikan oleh sisi gelap (shadows). Ia hanyut oleh berbagai dorongan negatif dari dalam diri—invisible force—hingga akhirnya merusak dirinya sendiri. Ia tidak bisa menyadari kebutuhan si mesin kendaraan (tubuh), tidak mengerti kapan harus berhenti dan “mengistirahatkannya”, tidak sadar saat sudah salah jalan dan perlu berbalik arah ke jalan yang lebih benar demi mencapai tujuan utama. Lebih tepatnya, ia tidak berusaha memahami, bahkan abai dan secara aktif mengabaikan berbagai sinyal dari si mesin hingga akhirnya mengalami overheating dan bisa mengalami meltdown total.
Baca juga: Membangun Karakter Bersama Sigma Leadership
Saat saya berkaca pada diri sendiri, saya sadar bahwa saya pun masih banyak dikendalikan oleh invisible force. Mulai dari gerak pikiran yang muncul di kepala, lalu turun ke ucapan, hingga termanifestasi dalam perilaku keseharian. Ternyata, kalau tidak hening, kesadaran kita akan terus diambil alih oleh invisible force.
Seringkali pikiran di kepala, ucapan di mulut, dan niat dalam hati serba tidak sinkron karena tidak terkelola. Kegagalan dalam melakukan manajemen diri akhirnya berimbas pada ketidakmampuan saya menjaga kejernihan perspektif dalam berpikir, gagal mengelola emosi, hingga kemudian termanifestasi dalam respons dan perilaku yang dapat menyebabkan ketidakharmonisan dalam pola kehidupan, baik dalam skala diri maupun saat berelasi dengan sesama.
Akhirnya banyak momen ketika muncul pertanyaan penuh penyesalan saat berupaya merefleksikan kembali keseharian saya: “Kenapa ya tadi saya berkata seperti itu?” atau “Kenapa saya kok bertindak dan bersikap seperti itu ya?” Baik kepada rekan kerja, kerabat keluarga, maupun para penjaga toko dan pengemudi ojek online (ojol) yang sering berinteraksi dengan saya dalam keseharian.
Belum lagi mencakup berbagai penderitaan fisik dan psikologis yang menyertai tindakan keseharian akibat terus-menerus digerakkan oleh sisi gelap, seperti burnout, crash out, brain fog, dan lain-lain. Rasanya efek samping ini sudah tidak lagi worth it untuk terus dipertahankan hanya demi mewujudkan sesuatu yang dianggap penting, tetapi sesungguhnya hanya bersifat sementara.
Semua itu terjadi karena saya belum sungguh-sungguh mau mengambil alih kesadaran diri dalam mengoperasikan mesin kendaraan ini melalui praktik mindfulness atau hening/meditasi penjernihan diri.
Di Program Unlock Your Sigma Potential (USP) diajarkan untuk memimpin diri sendiri (self-leadership) agar tidak menjadi manusia ‘robotik’ yang dikendalikan oleh dorongan negatif bawah sadar. Prosesnya dimulai dari praktik mindfulness, supaya sedikit demi sedikit kita bisa meningkatkan durasi saat kita sadar (aware) akan kondisi “hilang kendali”. Lalu dilanjutkan dengan mengurai akar permasalahan (reflection), sehingga bisa membersihkan dorongan sisi gelap/shadows (purification). Ketika semua “sampah” dalam diri sudah sirna (transformation), pada akhirnya kita bisa menjadi manusia yang berkesadaran dan punya kendali penuh dalam mengoperasikan kendaraan diri (realization).
Melihat journey yang sangat panjang ini dan realita diri saya sendiri, saya tidak punya pilihan selain berendah hati. Saat ini saya masih berjuang untuk membangun tahap awal, yaitu awareness. Saya harus mau mempraktikkan mindfulness informal dalam keseharian supaya bisa menangkap sebanyak mungkin momen saat saya tidak sadar (unaware), lalu bergerak untuk meriset akar masalahnya (reflection) dan membersihkannya (purification).
Perlu tekad kuat dan upaya yang optimal agar saya tidak terus-menerus terjebak dalam siklus robotik dan menumpuk berbagai kotoran yang pada akhirnya merusak mesin diri sendiri. Meskipun terkadang belum terlihat memiliki immediate effect, dampaknya sesungguhnya sangat detrimental dan krusial dalam bigger picture kehidupan yang bermakna dalam jangka panjang.
Kini semakin sadar saya bahwa habit dan perilaku dalam keseharian itulah yang menjadi landasan utama dalam membentuk nasib kehidupan kita.
Revino Fauzan
Peserta Kelas Unlock Your Sigma Potential (USP)
Your Reaction:


