Skip to main content

Tiga Aspek Kepemimpinan

Aspek pertama dan yang terpenting dari ilmu kepemimpinan adalah, kepemimpinan bagi diri sendiri. Ini terjadi ketika Anda sungguh-sungguh bisa mencapai apa yang merupakan rancangan Agung atau versi terbaik dari diri Anda. Cara mencapai kondisi itu adalah dengan mengambil keputusan yang tepat, melangkah di jalan yang tepat yang memungkinkan semua potensi Anda teraktualisasi, memungkinkan Anda  terasah segala kemampuan terbaiknya. 

Itu terjadi lewat sebuah kerja yang sangat serius, yang merupakan paduan antara tekun latihan hening (menyadari nafas natural) yang akan membawa pada pengenalan diri seutuhnya melalui tercapainya pemurnian diri. Saya melakukan segala tindakan, dengan karya yang disesuaikan dengan talenta saya, yang saya latih setiap hari. Saya tahu bahwa saya punya talenta menulis, maka tiada hari saya lewati tanpa menulis, walaupun itu hanya menulis di sosial media.

Jadi Anda hening, Anda bisa menemukan talenta Anda, tapi jelas talenta Anda itu tidak akan bisa berkembang kalau tidak dilatih. Tanpa dilatih talenta tidak akan berkembang ke titik yang maksimal, maka Anda harus bekerja dengan sangat sungguh-sungguh. Anda harus melampaui segala hambatan mental, termasuk kemalasan. Anda harus mau keluar dari zona nyaman. Tapi tentu yang paling penting adalah Anda mengakui dulu talenta Anda, mengakui bahwa kemampuan yang diberikan Tuhan kepada kita itu adalah sesuatu yang berharga.

Aspek kedua dari kepemimpinan adalah menjadi penggerak perubahan. Anda menjadi agensi perubahan, yang tidak berdiam diri saja atau hanyut mengutuk kenyataan yang buruk. Tapi sesuai dengan kapasitas kita, melakukan semua karya yang selaras dengan talenta, memberikan yang terbaik dan bersukacita dalam menjalani prosesnya. Tiada keluh kesah dalam menerima hasilnya. Kita selanjutnya berserah diri, dan pasrah total. Biarlah keajaiban terjadi, karena memang demikianlah Hukum Semesta. 

Jadi Hukum Semesta itu menegaskan bahwa tugas kita adalah melakukan yang terbaik yang kita bisa, maka sisanya berbagai kekuatan Semesta itu akan menopang mendukung kita. Itu yang disebut sebagai Mestakung. Jadi Mestakung itu adalah situasi di mana kekuatan Semesta itu menggenapi apa yang telah kita kita lakukan. 

Aspek ketiga dari kepemimpinan adalah menjadi teladan bagi anak buah atau tim yang Anda pimpin.  Anda bisa menjadi sumber inspirasi bagi orang lain, bagi anak buah Anda, kalau dua aspek kepemimpinan yang pertama itu bisa dipenuhi. Bila Anda bisa memimpin Anda sendiri, dan bisa konsisten menjadi pencipta perubahan, konsisten untuk melahirkan karya sesuai dengan talenta Anda, maka Anda akan bisa memenuhi aspek ketiga ini.

Kepemimpinan itu harus dijalankan dengan keteladanan. Anda tak bisa mengajak anak buah untuk mencapai versi terbaik dari dirinya kalau Anda sendiri tidak mencapai itu. Anda tak bisa meminta anak buah Anda untuk memberikan karya terbaik, memberikan sebuah kontribusi yang optimal kalau Anda tidak terbiasa juga mencontohkan hal-hal demikian.

Jadi dalam kepemimpinan yang kaitannya dengan orang lain, integritas itu penting. Apa yang Anda omongkan, itu harus selaras dengan apa yang Anda pikirkan, dan selaras dengan apa yang Anda lakukan. Tidak bisa kita memimpin dengan kedustaan, memimpin dengan hanya omong yang manis, tapi tanpa ada dukungan kenyataan di dalam keseharian.

Ketika kita bicara tentang memimpin orang lain, tentu saja kita juga akan ada dalam proses bertumbuh. Pasti ada ruang di mana karir Anda meningkat, entah Anda naik ke posisi kepemimpinan yang lebih tinggi yang cakupannya lebih luas, atau lembaga yang Anda pimpin ini berkembang menjadi semakin besar.

Sama halnya dengan kita bertumbuh sebagai satu pribadi, bertumbuh sebagai pemimpin di sebuah lembaga atau organisasi, yang juga harus dibiarkan dalam proses yang mengalir. Jadi melakukan yang terbaik tanpa obsesi, memberikan apa pun yang kita bisa tanpa watak ambisius.

Jadi di sini kita harus bisa membedakan antara ambisi, obsesi, dengan apa yang disebut sebagai visi atau cita-cita Agung. Kalau kita memimpin dan berkarya atas dasar spiritualitas, maka yang kita lakukan adalah memberikan yang terbaik, berjuang dengan sepenuh hati, sepenuh kemampuan kita, tapi kita tidak melekat pada hasil. Kita tidak memaksakan apa yang kita anggap baik. Kita tidak hanyut dalam ambisi dan obsesi kita

 

Chairman The Avalon Consulting

Setyo Hajar Dewantoro